NAVIGASI

Selasa, 25 November 2014

Pro-kontra tentang kenaikan harga BBM



Pro-kontra tentang kenaikan harga BBM masih berlangsung. Saya ingin membantu menjelaskan.

Begini: Pemerintahan baru naik. Rapat kabinet pertama. Presiden menyampaikan program-programnya yang perlu diwujudkan para menteri. Singkatnya, setelah program-program itu dibahas bersama para menteri, ketemulah biaya yang dibutuhkan. Kita contohkan saja: Rp10 juta.

Semua program yang disampaikan presiden itu akan terlaksana bila ada duit sebesar itu. Maka, presiden beserta jajarannya berkonsultasi dengan menteri keuangan. Intinya: Kita punya duit berapa sih? Di kas Negara ada duit berapa?

Duit di kas Negara itu berasal dari tiga sumber: Pertama, pendapatan dari pajak. Kedua setoran-setoran BUMN. Ketiga: Pinjaman luar negeri. Yang belakangan ini kita abaikan dulu.

Setelah diperiksa, ternyata di kas Negara cuma ada duit Rp5 juta, alias kurang lima juta lagi. Maka, ada dua pilihan. Pertama, mencoret sebagian program-program yang telah disampaikan. Kedua, menaikkan proyeksi pendapatan Negara menjadi Rp10 juta atau lebih.

Bila pilihan pertama yang diambil, timbul masalah. Program-program itu kan yang dijanjikan kepada rakyat selama kampanye? Dan rakyat memilih mereka antara lain karena program-program itu: Kartu pintar, kartu sehat, beli drone, beli satelit, bikin tol laut, dan seperti anda tau. Bila sebagian program-program itu dicoret, rakyat pemilih akan nagih. Ribut. Tak nyaman lah.

Bila pilihan kedua yang diambil, yakni menaikkan proyeksi kas Negara, pemerintah baru hanya bisa memilih mana yang bisa diintervensi. Tidak ada yang lain kecuali menaikkan harga-harga barang jasa yang disediakan oleh perusanaan Pemerintah. Mendorong ekspor tidak bisa diintervensi karena yang menentukan adalah pembeli di luar negeri. Pemerintah tak bisa memerintah pihak asing untuk membeli barang-barang ekspor Indonesia. Atau memerintah pembeli asing yang sudah ada untuk menambah pembeliannya.

Dan kebetulan yang paling banyak memasukkan setoran kepada kas Negara adalah Pertamina, dari hasil penjualan premium. Harga kemarin perlu dinaikkan untuk meningkatkan kas Negara menjadi 10 juta itu. Tapi masalahnya, menaikkan harga premium pun berarti mengingkari janji selama kampanye. Dan yang lebih serius, akan memicu kenaikan harga-harga barang dan jasa.

Menaikkan harga premium ada kemungkinan positifnya juga: mengurangi penyelundupan premium ke luar negeri. Karena harga premium dalam negeri murah, dijual lah keluar negeri. Praktik ini bisa dilakukan oknum, bisa juga oleh Pertamina sendiri. Pasokan dalam negeri jadi kurang. Itulah sebabnya kadang-kadang premium 'ngilang'. Tentu mereka untung besar.

Ini pelajaran bagi para pemilih. Jadilah pemilih rasional, jangan emosional. Sebab kalau anda memilih tanpa alasan rasional,hanya karena program-programnya menarik dan asyik, akibatnya akan kena ke anda juga. Mungkin pemerintah baru tidak ada niat membohongi pemilihnya. Itu  karena tidak ada pilihan saja. Sebab lain karena kurang kreatif.

Kenapa tak menaikkan pajak saja? Resikonya lumayat sulit. Pemerintah baru sedang berusaha bermanis-manis kepada para pemodal dan pengusaha untuk meningkatkan investasi, menaikkan pajak bisa merusak usaha yang sedang dibangun. Dan ingat, pemerintah baru ini bisa terpilih antara lain karena dukungan finansial sebagian mereka.

Subsidi?
Apakah meningkatkan harga premium itu berarti mencabut subsidi? Apakah harga kemarin itu harga subsidi? Bukan. Harga premium kemarin itu tak lebih dan tak kurang adalah harga premium Indonesia di dalam negeri!

Subsidi kalau, misalnya, penghasilan pertamina dari premium yang seharusnya Rp3 juta cuma dapat Rp2 juta. Lalu Pemerintah menutup kekurangan itu dengan memasukkan pendapatan dari sektor lain. Itu baru subsidi.

Pertamina telah memenuhi target setoran ke kas Negara dan tidak rugi dengan harga premium selama ini. Tidak ada subsidi. Tidak ada ‘subsidi yang dinikmati orang-orang kaya’ ataupun miskin. Pemerintah tak pernah nombokin Pertamina. Kebohongan ini harus dihentikan.

Investasi asing
Bila menaikkan pajak bukan pilihan yang mungkin, maka kerja-kerja-kerja lah menjaring investasi atau ngutang. Kalau dapat utang, ini lebih aman untuk di dalam negeri, sebab nanti yang bayar bukan rejim pemerintah, tapi negara. Bisa ditimpakan ke pemerintahan berikutnya.

Supaya investasi menarik, perizinan harus mudah, pajak harus rendah, biaya konsesi harus murah. Jadi kerja-kerja-kerja sama dengan obral-obral-obral. Tapi harap dicatat bahwa hasil dari investasi asing tak datang hari ini, atau besok, atau tahun depan, atau dua tahun yang akan datang. Tak ada satu perusahaan di dunia dan planet lain yang langsung untung.  Bahkan bila proyeknya rugi, ya gigit jari. Contoh tentang proyek gagal ini sangat banyak di Indonesia. Boro-boro menambah pemasukkan ke kas negara. SDA rusak. Pengangguran nambah. Dan lihat, investasi asing sudah menyerbu Indonesia segera setelah reformasi, toh rakyat Indonesia begini-begini aja.

Lagi pula, dalam hal investasi asing dan utang ini Pemerintah Indonesia sering dikibuli dan tak kapok-kapok. IMF, atau Bank Dunia, atau ADB, atau USAID, atau negara anu, “berkomitmen untuk memberi pinjaman sekian dolar kepada Indonesia.” Baru komitmen sudah jadi sumber kebanggaan. Sudah diberitakan dimana-mana. Diutnya belum tentu datang, dan banyak yang tak datang, tapi pemerintah Indonesia sudah duluan nurut perintah si pemberi janji. Maklum, beharap bingit agar janjinya benar-benar dipenuhi. Disuruh menswastakan sumber daya air. Nurut. Disuruh menjual BUMN itu, nurut. Disuruh nembakkin yang dianggap teroris, nurut. Setelah semua diturut, duit yang dijanjikan tak datang juga. Si pemberi janji sudah mencapai tujuan dan maksudnya, ngapain memenuhi janji. Pelajari kembali kasus lepasnya Timtim: http://kafilyamin.wordpress.com/2011/02/18/menit-menit-yang-luput-dari-catatan-sejarah-indonesia/

Bilapun investasi asing benar-benar terwujud, cukup banyak yang akal-akalannya membodohi Indonesia juga. Si investor asing tak keluar duit, atau keluar duit sedikit saja, yakni dengan hanya menyediakan dana awal untuk membentuk konsorsium antar bank-bank Indoneisa. Walhasil, proyek asing itu dibiayai oleh bank-bank Indonesia, alias sekumpulan bank kita memberi kredit kepada pemodal asing! Contoh proyek seperti ini banyak di Indonesia. Tidak pada tempatnya mengurai kasus-kasus itu di sini. Lihat: http://www.cato.org/pubs/pas/pa065.html

Atau baca: Arbitrating Foreign Investment Dispute, yang disunting Norbert Horn.  Kalau gagal, si pemodal asing sama sekali tidak rugi. Kita yang gigit jari.

Kita, rakyat, kalau pun tidak cerdas-cerdas amat, tidak ingin dikibuli pemerintah sendiri ataupun asing.


 


Read More

Jumat, 14 November 2014

KIDUNG ASMARA PRABOWO SUBIANTO




"Saya sangat cinta dengan NKRI, saya takut melanggar konstitusi"

Kurang lebih, dua hal itulah yang sering kudengar langsung dari bibir pak Prabowo Subianto jika sedang menanyakan banyak hal. Dua hal yang selalu berulang-ulang dan menjadi ujung semua diskusi. Baik perihal konsep kenegaraan, politik, ekonomi, isyu-isyu, fitnah hingga perihal perjalanan asmara dalam kehidupannya.

JIkalau bukan perihal asmara--tentu mudah untuk menerimanya. Namun untuk yang satu ini, tak mudah untuk mencernanya. Bagaimana mungkin "cinta NKRI" dan "taat konstitusi" menjadi ujung kisah-kisah asmaranya?

Boleh kita cek saat usai pendidikan di Akabri, beliau putus hubungan dengan kekasih pertamanya gara-gara keseringan tugas masuk hutan belantara dan kelupaan apel malem minggu.

Bahkan dalam sebuah berita, pak Hasyim Djojohadikusumo pernah mengungkapkan jika kakaknya terlalu sering memilih bertiarap dalam parit dengan pasukannya saat berperang, keluar masuk hutan, mencicipi air dari sumur-sumur penduduk seantero nusantara hingga tiduran terlentang di tanah menatap bintang-bintang daripada tinggal dalam "sangkar emas" dengan istrinya--bu Titiek.

Padahal dulu untuk menikahi bu Titiek, perjuangan Prabowo tak mudah. Bapaknya terkenal sangat "kontra" Soeharto hingga saat sebelum mengenalkan ke bapaknya, dibawanya terlebih dahulu bu Titiek ke neneknya. Sempat neneknya tidak tahu bahwa bu Titiek adalah anak Soeharto. Yang Neneknya tahu, gadis yang dikenalkan Prabowo ini adalah anak "kuliahan" di Yogya yang cantik dan sangat lembut dengan tutur kata yang sangat halus dan sopan.

Bahkan usai "kejadian" di teras rumah Cendana--beliau pun tak terlihat minat untuk mencari pendamping lain. Sampai-sampai muncul berbagai isyu tak mengenakan perihal ini.

Salah satunya dari wikileak (2006) yang menyatakan Prabowo sering ke Thailand dan menyembunyikan kekasihnya disana. Bahkan dituduh mempersiapkan usaha/bisnis untuknya. Hadeh, padahal dulu pak Prabowo ke Thailand hanya sedang mengurus kuda-kuda peliharaaannya dan study banding untuk perkuatan tim nasional Polo berkudanya.

link --> http://www.wikileaks.org/plusd/cables/06JAKARTA8261_a.html

Ya, jangankan anda--saya pun bertanya-tanya, kekuatan apa yang membuat pak Prabowo begitu menikmati kesendiriannya. Cinta NKRI? Hmm...

Padahal kalau sekedar pendamping, perempuan mana sih yang menolak "ksatria" model beliau? Bukti nyatanya saat mendadak di Bukit Hambalang 29/10/2014), kediamannya di datangi ibu-ibu fans beratnya dengan membawa aneka macam makanan dan cemilan sensiri untuk selamatan hari ulang tahunnya.

Tidak usah dijelaskan bagaimana para ibu-ibu ini histeris saat Prabowo mendemonstrasikan kelihaiannya menunggang kuda dansa, belum lagi kehebohan saat berfoto ria dengan beliau sampai-sampai beliau kikuk dan berkata dengan nada bertanya "haduh, ada yang marah nggak nih?" saat para ibu-ibu ini nempel mepet-mepet seakan-akan tak mau kehilangan momen istimewa ini.

Bahkan yang paling membuat geleng-geleng kepala adalah munculnya aneka macam "tongsis" yang bersliweran dibawa ibu-ibu ini. Sampai saya sendiri kesusahan mengabadikan gambar beliau yang kebetulan berkumpul dengan para petinggi KMP seperti Amien Rais, Anis Matta, Hatta Rajasa, Aburizal Bakrie, Satya Novanto dan lain sebagainya karena lensa kamera terhalangi "senjata" narsis ibu-ibu ini.

Nah, untung saja saya teringat acara "banawa sekar" (bahtera bunga)--sebuah tradisi Majapahit yang digalakkan kembali oleh Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) untuk mengembalikan kembali kejayaan Nusantara. Sholawat dan doa teriring di acara sarasehan “Majapahit adalah masa depan Indonesia” di Pendopo Agung Trowulan (27/5/2014) tersebut.

Dalam acara yang dulu diinisiasi oleh Mpu Tanakung, seorang pujangga kerajaan Majapahit untuk mengingatkan rakyat akan kondisi Kerajaannya yang makin terpuruk karena "kelakuan" para elitnya yang hanya mengejar kekuasaaan dan kemewahan semata sehingga lupa kepda perjuangan para "founding father"-nya. Serta ketidak pekaan dengan bahaya ideologi asing yang mengancam kerajaan.

Nah, kembali lagi ke kisah Mpu Tanakung ini, saat tak sengaja mencari-cari karya sastranya--betapa terkejut. Ada sebuah bait yang isinya menjawab semua pertanyaan dasarku tentang hubungan asmara Prabowo dengan "Cinta NKRI" ini. Ternyata, jauh sebelum Prabowo, di era Majapahit telah ada sosok yang mirip dan sangat tergambarkan kemiripan karakternya. Bait yang tertuang dalam kitab "Kakawin Wrettasancaya" ini tertulis:

"Nimitangsu yan layat anigal sang ahayu nguni ring tilam, datan lali si langening sayana, saka ring harepku laliya anggurit lango."

Artinya:

“Aku meninggalkan Jelitaku dahulu di peraduan, bukan karena aku lupa indahnya peraduan asmara, namun karena hasratku yang tak tertahankan untuk melukiskan keindahan tanah air”

(Mpu Tanakung)

Ah! ternyata...
Read More

Rabu, 12 November 2014

PERBEDAAN ARTI "INVESTASI ASING" DIMATA JOKOWI & PRABOWO





Tentu kita sudah mengetahui pidato Jokowi di forum Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) CEO Summit 2014 di Beijing, Tiongkok, Senin (10/11/2014) kemarin.

Salam kesempatan ini, saya tidak ingin membahas hal yang remeh temeh seperti bahasa Inggris Jokowi atau baju resmi perhelatan ini yang ala 'Star Trek'. Kali ini saya ingin sedikit berbagi esensi pidato Jokowi yang menjadi garis kebijakannya dalam mempimpin negara ini.

Jujur saja, dugaan saya terbukti. Ada perbedaan pandangan perihal kata INVESTASI antara Jokowi dan Prabowo Subianto .

Menurut Prabowo, dalam membangun infrastruktur Indonesia--cara pembiayaan dan pendanaannya dari negara sendiri, diutamakan dari menyelamatkan kebocoran 1000 Triyun/pertahun dan kedua melalui "strategi dorongan besar" nya untuk makin "memperkaya" rakyat Indonesia.

Untuk cara pertama saja, jika bisa menyelamatkan 500 Trilyun dalam tahun pertama, maka bisa dibangun insfratruktur sbb:

a. Pembangunan Jalan Tol Jakarta - Surabaya; Biaya sampai selesai: Rp. 150 triliun
b. Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera; Biaya sampai selesai: Rp. 129 triliun
c. Pembangunan Kereta Api Trans Sumatera; Biaya sampai selesai: Rp. 65 triliun
d. Pembangunan Kereta Api Trans Sulawesi; Biaya sampai selesai: Rp. 30 triliun
e. Pembangunan Kawasan Pangan 1 Juta Hektar Untuk Produksi 15 Juta Ton Padi per Tahun; Biaya sampai selesai: Rp. 50 Triliun
f. Percepatan Pembangunan Desa Minimal Rp. 1 Milyar per Desa per Tahun; Biaya: Rp. 81 Triliun

Selengkapnya, bisa dibaca di status beliau disini--> https://www.facebook.com/PrabowoSubianto/photos/a.60019411178.82664.23383061178/10151946695586179/?type=1&theater

Sedangkan investasi asing--bagi Prabowo adalah opsi tambahan atau bahkan bisa dibilang terakhir. Karena jelas dalam berbagai statement dari media mau pun debat capres--Prabowo tidak menolak investasi asing, Namun prabowo minta kata "investasi" itu harus benar-benar "investasi".

Artinya: negara asing MEMBAWA DUIT saat datang ke Indonesia.

Negara asing harus benar-benar datang sebagai MITRA, bukan mencari buruh dengan harga 'kompetitif" alias murah.

Uang yang mereka bawa pun untuk membiayai pembagunan infratruktur dengan sistem B-O-T atau "Build - Operate - Transfer".

Maksudnya adalah investor asing tersebut membangun dengan uangnya sendiri, lalu mengoperasikan dengan sistem pembagian tertentu--sesuai kesulitannya saat pembangunan. Jadi bisa 70:30, 50:50 atau malah 30:70. Lalu pada tahun tertentu yang disepakati, contohnya 25 atau 30 tahun maka infrastruktur tersebut jadi full 100% milik bangsa Indonesia.

Nah, bagaimana dengan pemerintahan JKW-JK ini?

Merujuk pada statement debat capres, media dan pidato di forum CEO APEC--dapat kita simpulkan sebagai berikut:

1. Terjadi inkosisten dalam statement, khususnya saat debat capres. Dalam acara tersebut--JKW-JK menyatakan akan mempermudah investasi lokal dan "mempersulit" investasi asing. Namun nyatanya, dalam pidato di forum APEC--Jokowi malah mengundang bahkan mempermudah "investor asing" ala Jokowi ini.

Padahal, tanpa diundang pun--Indonesia sudah sanggat menggoda asing untuk mendapatkan nikmatnya SDA surga di bumi yang bernama Nusantara (baca: Indonesia) ini. kalau tidak menarik, buat apa VOC (Belanda) dan Jepang betah berlama-lama di Indonesia? Belanda sampai 350 tahun loh.

2. Kata "investasi asing" tersebut sangat ambigu. Boleh dicek disemua media yang membahas program pencabutan subsidi BBM yang akan dilakukan JKW-JK. Disana disampaikan bahwa subsidi 300 s/d 700 triyun tersebut bukan hanya untuk pendidikan, pertanian, perikanan namun juga untuk membangun infrastruktur. Infrastruktur yang dipaparkan dalam slide presentasi di forum APEC.

Artinya, "investor asing" yang datang ke Indonesia nanti akan memakai biaya pencabutan subsidi BBM. Atau bahasa kasarnya, "investor" tersebut sebenarnya adalah sekedar 'KONTRAKTOR" saja. Nggak bawa duit. Bahkan berkesan sekedar bancakan pencabutan subsidi BBM saja.

Kalau sekedar kontraktor, kenapa harus BUMN dari RRC atau negara lainnya? Bukannya soal teknik sipil, Indonesia adalah dedengkot-nya?

Coba cek nama Ir. Tjokorda Raka Sukawati. Seorang insinyur asli Indonesia kelahiran Bali yang menemukan sistem konstruksi hidrolik Sosrobahu dan angka ajaib hitungan 78.05 Kg/cm2. Sebuah angka koefisien menjadi patokan insinyur sipil di seluruh dunia. Tidak terkecuali Amerika.

Belum lagi bidang pertambangan pesawat, otomotif, elektro hingga IT. Ada berapa banyak kampus negeri/swasta yang membuka fakultas ini? Sejak berapa tahun berdiri? Berapa banyak lulusannya? Dan berapa banyak BUMN nasional yang terbukti mumpuni dibidangnya masing-masing.

Walau khusus bidang IT, saya tidak yakin bisa bikin program 2 minggu selesai--namun sebagai salah satu insan IT dan telekomunikasi, saya tidak pernah kekurangan sahabat yang sangat luar biasa kecakapannya dibidang ini. Bahkan dibandingkan kawan-kawan expatriat sekali pun.

Kurang lebih begitu tanggapan saya. Sedikit saya kutip pidato Prabowo di Gelora 10 November, Surabaya tentang Negara Asing:

"Saya ingin jadi sahabatmu. Saya ingin jadi mitramu. Tapi jika kau ingin kami jadi KACUNG-mu, saya katakan TIDAK!!!"

video: https://www.youtube.com/watch?v=uDg1nsViIp8

Sekian, selamat pagi dan tetap MERDEKA!
Read More

Jumat, 29 Agustus 2014

DUKA UNTUK SANG GURU YANG LANGKA


By Nanik S Deyang

Semalam saya masih bisa mengenang beliau tanpa air mata, tapi tadi pagi tangis saya jebol, saat Pak Prabowo memimpin untuk mengheningkan cipta untuk "SANG GURUKU" Prof Suhardi, Ketua Umum Gerindra. Dadaku makin sesak manakala suara Pak Prabowo makin parau, dan pecah menjadi tangis, saat mengucapkan selamat jalan untuk sang sahabat yang suka menyanyi, Cucak Rowo ini.

Bagi saya pribadi, dibanding Pak PS saya lebih lama mengenal Prof Suhardi, saya mengenal sebelum Prof Hardi berkeluarga, dimana kala itu beliau masih sebagai Doktor, karena beliau dosen pembimbing saya. Memang saya agak aneh, saya kuliah aslinya di Fakultas Bilologi Unsoed Purwokerto, dosen pembimbing saya Prof Hardi, Dosen Kehutanan UGM. Walhasil di akhir kuliah saya tiap minggu bolak-balik Purwokerto-Yogja.

Mungkin karena saya "anak bimbingannya" yang paling nyleneh, dan kebetulan dari penelitian yang saya ambil, saya yang paling bagus dibanding mahasiswanya sendiri dari UGM, sehingga saya menjadi "anak emas" beliau, hingga saya disponsori untuk mendapatkan bea siswa melanjutkan sekolah ke tempat beliau sebelumnya mengambil master dan doktor.

Karena menjadi anak didiknya yang paling tomboy dan arogan mungkin, Pak Hardi selalu memantau saya, takut kebablasan bandelnya. Dan belia juga sangat tau saya manusia yang gak bisa diarahkan, itulah sebabnya beliau tetap mendukung, ketika saya tidak mau meneruskan mengambil master, meski sudah susah payah beliau membantu saya. Dan ketika akhirnya saya lebih memilih menjadi wartawan, jauh dari penelitian dan disiplin ilmu saya, beliau hanya bilang.."Deyang kamu itu manusia mandiri , pasti kamu tau mau kemana kamu melangkah" .

Ketika menjadi wartawan, dan saya sempat di Iran, saya putus kontak, hingga kebetulan saat saya ke Yogja, saya bertemu beliau di Bandara Adi Sucipto. Dan seperti biasa di hadapan kawan-kawan saya, dan kawan beliau, Prof Hardi, selalu membanggakan saya, "Ini lho anak didik saya yang paling bandel, Dia sangat mandiri dan pekerja keras" ...Hingga wafat mungkin sudah ratusan kali, setiap bertemu orang beliau selalu membanggakan saya. Bahkan mungkin orang yang dengar juga bosan, saking seringnya beliau membanggakan saya.

Tahun 2001, saat beliau diangkat menjadi Dirjen, beliau menelpon saya . Tentu saya kaget kok beliau sudah melambung menjadi Dirjen, rupanya Gus Dur melihat "PERMATA" langka ini. Sayangnya rezim Gus Dur digulingkan, sehingga menteri kehutanan yang kala itu Marzuki Usman diganti, dan beliau juga ikut diganti. Sejak tidak menjabat Dirjen beliau memang aktif di HKTI.

Profesor Doktor Suhardi MSc, boleh dikatakan manusia langka di Indonesia. Beliau bukan hanya sangat cerdas karena menjadi doktor masih dalam usia yang sangat muda, padahal waktu itu tidak seperti sekarang, untuk menjadi Doktor cukup makan waktu lama. Apalagi penelitian yang diambil Prof Hardi, termasuk kala itu masih langka yaitu tentang enzim yang dikeluarkan oleh suatu jamur yang bisa menyuburkan tanah-tanah yang tandus, sehingga tanah yang tandus bisa dihutankan, atau dihijaukan.

Selain cerdas, Profesor yang kami suka ledek berstyle "Ndesit" ini, juga sangat sederhana, rumah beliau yang ditempati di Yogja saat ini itu ya rumahnya saat awal beliau punya rumah. Belakangn rumah tersebut ditambahi pendopo. Bahkan saat menjadi Dekan Fakultas Kehutanan UGM, ke Kampus pun beliau hanya naik sepeda. Dan saat menjadi Dirjen, beliau hanya indekos saja di Jakarta.

Profesor yang rendah hati, dan tidak pernah menyakiti siapapun, serta selalu santun ini, mencintai Indonesia luar biasa. Beliau punya keyakinan Indonesia bisa makmur apabila pertanian di Indonesia digarap dengan sebenar-benarnya.
Beliau tidak ingin rakyat kita jadi TKI. Beliau ingin Indonesia menguasai dunia dalam hal komonditas pertanian, jadi bukan seperti sekarang kita impor berbagai komonditas pertanian, tapi sebaliknya kita yang harusnya bisa impor, karena lahan kita dan iklim kita itu paling bagus untuk mengembangkan bidang pertanian. Semua tanaman bisa tumbuh baik di Indonesia.

Saking cintanya di bidang pertanian, beliau sampai SUMPAH GANDUM. Dimana seumur hidupnya beliau tidak pernah mau makan mie atau roti yang terbuat dari tepung gandum . Sebaliknya beliau sangat konsentrasi mengembangkan tanaman polo pendem (semua tanaman umbi-umbian seperti singkong, ubi, talas dll). Bahkan saking konsentrasinya meneliti Ketela, beliau dapat sebutan "Prof Telo atau Ketela".

Mengapa Prof Haradi anti gandum, karena menurutnya gandum membuat anak-anak tidak sehat, dan bisa menjadi penyebab autis (saya lupa persisnya tapi banyak tulisan Prof Hardi, berkait dengan kebenciannya pada Gandum). Tak hanya itu, gandum yg 100 persen diimpor oleh Indonesia tersebut telah menguras devisa negara yg jumlahnya sangat besar, karena rakyat Indonesia sudah "dicekoki" produk gandum sejak dini, sehingga tingkat ketergantungan mengkonsumsi gandum sangat tinggi.

Di luar itu, impor gandum yang besar, membuat harga-harga produk pertanian kita rendah, akibatnya petani malas bertani, dan pada saat petani malas, justru yg masuk adalah produk impor. Prof Hardi meyakini, hancurnya pertanian kita, karena memang sdh diskenario oleh negara-negara Kapiatlis, sehingga sektor pertanian kita hancur lebur, padahal kita negara agraris.

Bila sudah bercerita soal pertanian dan lahan kita yg hancur, beliau bisa kuat berjam-jam, bahkan kadang sampai menangis merasakan keadaan negara Indoneisa, dan juga nasib petani kita.

Oh ya dalam penelitiannya, beliau menemukan bahwa Ketela mengandung Kalsium lebih tinggi dibanding komonditas yang mengndung karbohidrat lainnya, sehingga anak-anak yang sejak dini diberi makan ketela, bukan saja terbebas dari berabagi penyakit berat seperti autis, tapi tulangnya juga kuat. Profesor Suhardi sering berleleh-leleh air mata, mengetahui akhirnya ketela pun harus kita impor, padahal di Indonesia ketela ditancap tanpa dikasih pupuk pun bisa tumbuh dengan baik.

Bagaimana peneliti dan pendidik ini kemudian sampai terjun ke dunia politik meningalkan posisinya sebagai Dekan Fakultas Kehutanan UGM? Di HKTI-lah Prof Suhardi yang pengurus HKTI DIY bertemu dengan sang Ketua Umum HKTI, Prabowo Subianto. Bahkan kalau mau jujur, cikal bakal partai Gerindra tersebut bermula dari ngototnya Prof Hardi yang ingin membuat partai yang bisa menyuarakan kepentingan petani dan nelayan.

Mengapa harus membuat partai? Karena Prof Hardi merasa, selama ini tidk ada satu pun partai yang secara serius membela nasib petani dan nelayan. Sehingga nasib pertanian, peternakan, dan perikanan kita hancur lebur, padahal Allah SWT sebetulnya memberikan kekayaan yang luar biasa pada negara kita di bidang itu.

Saat disodorkan proposal pertama Pak Prabowo tidak tertarik, apalagi Pak Prabowo juga tidak tertarik terjun ke politik. Namun Fadlizon yang kala itu sering mendampingi Pak Prabowo di HKTI, ikut mendorong Pak Prabowo untuk membuat Partai.

Sementara meski proposalnya ditolak, Pak Hardi tidak patah arang, setiap bertemu Pak Prabowo, beliau selalu menanyakan proposalnya, dan akhirnya Pak Prabowo "nyerah", namun kemudian Pak Prabowo minta ke Prof Suhardi, supaya nama partainya jangan Partai Tani dan Nelayan, supaya partai baru tersebut bisa memperhatikan juga bidang lain dan rakyat lain yang berfrofesi di luar tani dan nelayan bisa ikut dibela . Selanjutnya setelah melalaui berbagai perenungan, Pak Prabowo mengusulkan nama Gerindra.

Saat nama Partai sudah diketemukan , dan organisasi mulai disusun, Pak Prabowo belum terlintas memilih Prof Suhardi sebagai Ketua Umum Partai, apalagi beliau kala itu sebagai Dekan, dan belum punya pengalaman mengelola Partai. Namun sebuah cerita UNIK dan AJAIB terjadi.

Suatu kali dalam acara di Yogja, Pak Prabowo mampir ke rumah Prof Suhardi. Saat melangkah masuk ke rumah Prof Suhardi, Pak Prabowo yang semula sudah heran dengan sederhananya Rumah Prof Suhardi, dibuat tercekat ketika melihat isi rumah Profesor yang sangat sederhana, dan lantainya masih dari TEGEL lama yang warnanya putih kusam. Pak Prabowo makin bengong, ketika numpang kencing dan masuk kamar mandi ternyata ternyata WC Profesor masih WC Jongkok. Dan di Dalam kamar mandi itulah Pak Prabowo memutuskan bahwa Prof Suhardi-lah yang akan dipilih Menjadi Ketua Umum Gerindra.

"Bayangkan seorang mantan Dirjen, dan seoarang dekan dari Universitas Terkemuka, rumahnya masih pakai Tegel lama, dan klosetnya bukan yang duduk, tapi yang jongkok. Jadi jangan anda bayangkan di dalam kamar mandi itu ada shower dll... waduh yang ada juga gayung," kata Pak Prabowo . Dan cerita proses menentukan Pak Hardi sebagai Ketum Geirndra yang unik ini, sering diceritakan Pak Prabowo bila bertemu siapapun. Bahkan di Partai Gerindra sampai ada joke, kalau mau jadi Ketum buat dulu WC jongkok, dan kalau Pak Prabowo mampir ke rumah, persilahkan kencing di kamar mandi yang klosetnya jongkok.

Namun suatu kali Pak Prabowo pernah bercerita pada saya, bahwa dia memilih Pak Hardi, bukan saja lantaran Prof ini cerdas, sederhana, dan jujur, tapi Pak Prabowo punya keyakinan bahwa Profesor yang sabar ini bisa mengayomi semua orang di partai, sehingga potensi gejolak di partai bisa diredam.

Tak hanya itu, Pak Prabowo juga yakin, Profesor bukanlah orang yang akan menusuknya dari belakang atau menjadi pengkhianat. Saking sayangnya dengan Profesor, ketika mulai ada yang mulai ada yang mengutak-atik posisi Profesor sebagai Ketua Umum, Pak Prabowo pun mencari akal tidak menyelengarakan Munas, sehingga pemilihan Ketua Umum, masih dalam otoritasnya, sebagai Ketua Dewan Pembina.

Sebagai orang yang tidak pernah berkecimpung di partai mana pun, 6 tahun memimpin Gerindra, dan partai baru itu kini sudah menjadi nomer 3, tentu prestasi yang luar biasa bagai Profesor, apalagi partai ini, merupakan partai baru. Tak heran, Pak Prabowo sangat terpukul, dan tangisnya meledak, saat kehilangan sahabat terkasih yang dipercayainya.

Saat ditanya wartawan tadi pagi di DPP Gerindra, usai melepas sahabatnya untuk dimakamkan di Yogja, Pak Prabowo terbata-bata dan sulit menjawab, ketika wartawan menanyakan apa yang paling berkesan dari Prof Suhardi.

Pak PS mengatakan, terlalu banyak menceritakan kelebihan Profesor, bahkan sulit mencari orang seperti Profesor. Bagaimana tidak? Profesor pekerja keras yg sangat jujur.

Selama menjadi Ketua Umum Partai, dari 500 kantor cabang Gerindra 400 di antarnya sudah didatanginya, padahal lokasinya kadang harus dicapai dengan naik ojek atau harus ditempuh dengan kendaran darat yang memakan waktu berjam-jam.

"Tak hanya bekerja keras, beliau itu manusia paling jujur. Bayangkan mana ada jaman sekarang orang dapat biaya jalan ke luar kota kalau ada sisa dikembalika, tapi pak Hardi itu kalau uang jalan sisa, dikembalikan " kata Pak Prabowo menahan tangisnya.

Melihat Pak Prabowo yg berjalan dengan kaki yang lunglai, saya pun yang kebetulan di dekatnya seperti merasakan, betapa kehilangannya Pak Prabowo atas sosok Prof Suhardi. Rasa sesal pun mulai menyelimuti hati saya, mengapa orang yang begitu tulus pada saya itu selalu saya tolak niat baiknya. Dulu dia mati-matian saya bisa mengambil master, diusahkan saya bisa mendapatkannya dengan gratis, saya menolaknya.

Kemudian tahun 2009 sampai beliau buatkan saya kartu Gerindra, dan minta saya Nyaleg saya juga menolak, padahal beliau dengan sabar terus menilpon saya hingga detik-detik penutupan. Dia hanya minta saya datang ke kantor Gerindra untuk tanda tangan.

Oh ya saya juga menolak, ketika beliau merekomendasikan saya menjadi eksekutf di perusahan pulp and paper di sebuah perusahaan besar. Ah ketulusan itu selalu saya balas dengan ledekan dan arogansi, kini saya seperti pak Prabowo kehilangan seorang yang tulus dan sangat luar biasa baik.

Selamat jalan Prof, hari ini saya baru sadar banyak hal kebaikkan yang telah engkau berikan padaku, maafkan muridmu yang bengal ini Prof semoga Allah SWT memberimu tempat di Surga, karena kemuliaan hatimu.
Read More

Kamis, 28 Agustus 2014

Ternyata Jokowi Sudah Teken Kontrak Terkait Freeport Sebelum Pilpres


Mayoritas suara Pilpres 2014 di Bumi Cenderawasih mengalir ke Joko Widodo alias Jokowi. Di Provinsi Papua, Jokowi menang telak dengan perolehan suara 72,49 persen, sementara di Provinsi Papua Barat unggul dari Prabowo Subianto dengan mendapat 67,63 persen suara.

Belakangan terbongkar soal strategi Jokowi mendulang kemenangan di Papua. Salah satu strateginya adalah menandatangani kontrak politik terkait operasi Freeport, perusahaan tambang asal Amerika Serikat di Papua.

"Jokowi janji akan memindahkan smelter Freeport ke salah satu kota di Papua, tapi belum tahu akan dibuat di kota mana. Pekerja (Freeport) rekam pembicaraan mereka dengan Jokowi," ujar seorang sumber kepada redaksi rmol tadi malam (Kamis, 25/7).

Freeport berencana akan PHK 50 persen pekerja tambang lapangannya. Selama ini rencana PHK selalu dikait-kaitkan karena Freeport tidak mau membangun smelter. Freeport sendiri memang sama sekali tidak berencana dan berkeinginan membangun smelter karena menurut mereka kewajiban tersebut sudah dipenuhi tahun 1995 ketika Smelter Gresik beroperasi, dimana 75% nya diurus Mitsubishi dan 25% Freeport McMoran.

Tidak mau berurusan dengan arbitrase dan urusan lain-lain dengan pemerintah, Freeport secara terpaksa belakangan mau membangun smelter lagi. Smelter akan bangun di Gresik, Jawa Timur. Daerah Gresik dipilih karena faktor bisnis dimana di sana tersedia energi gas. Pertimbangan lainnya karena faktor lingkungan dimana produk buangan smelter berupa H2SO4 atau asam sulfat pekat yang sangat beracun dapat dikelola langsung oleh Pupuk Gresik sebagai salah satu bahan utama pembuatan pupuk.

Janji Jokowi membangun smelter di Papua tidak tepat. Juga, tidak tepat upaya Jokowi mengatasi rencana 50 persen PHK pekerja Freeport dengan membangun smelter di Papua.

"Kalau bangun di Papua sama saja bohong, karena gak ada sumber energi yang tersedia, gak ada pembangkit listrik se pulau Papua selain menggunakan solar dan batubara impor dari kalimantan, serta pengelolaan lingkungan yang beresiko tinggi karena hasil buangan smelter harus secara khusus dilakukan pengelolaan dengan biaya tinggi," papar sumber yang paham betul soal seluk beluk Freeport Indonesia itu.

Diingatkan, smelter merupakan pabrik yang mengandalkan mekanisasi dan otomatisasi. Pabrikasi tidaklah padat karya. Paling banyak smelter hanya akan memiliki tenaga kerja 600 orang, atau jauh lebih kecil dari jumlah tenaga kerja pabrik panci Maspion, atau pabrik garment kelas menengah di Bandung.

"Mungkin saja Jokowi dan Freeport main mata soal smelter akan dibangun di Papua. Untung untuk Jokowi dapat suara banyak di timur. Untuk Freeport biar rugi sedikit asal dapat kepastian di perpanjang sampai 2041," demikian sumber itu menutup perbincangan dengan redaksi..
*rmol

Read More

Bagikan