NAVIGASI

Jumat, 01 Agustus 2014

TENTANG "KEBOCORAN" & KEHILANGAN KEKAYAAN NEGARA

 
By Hazmi Srondol
Dulu Gajahmada ditertawakan karena Sumpah Palapanya utk menyatukan Nusantara. Soekarno juga ditertawakan karena cita-cita Kemerdekaan Indonesia-nya

Lalu kini, Prabowo ditertawakan karena bicara soal "kebocoran" kekayaan negara yang harus di selamatkannya.

Baiklah, sedikit saya bagi ulang tulisan soal ini yang saya tulis sejak tahun 2013 yang merupakan esensi dari cara beliau mewujudkan cita-citanya menjadikan kembali Indonesia sebagai "Macan Asia"....

MERDEKA!

=======

PRABOWO, TUKANG "TAMBAL BAN" KEBOCORAN KEKAYAAN NEGARA

“Ini luar biasa” kataku datar saat salah seorang staff Prabowo meminta pendapatku perihal apa yang sudah mereka kerjakan di ‘jantung’ operasional partai Gerindra.

“Luar biasa bagaimana, Mas?” tanyanya balik dengan wajah berbinar senang.

“Ya, luar biasa karena tidak ada yang melakukan seperti yang kalian kerjakan” jawabku sambil berbalik badan menjauh.

Aku tahu, mereka pasti senang dengan pendapat ini. Walau pun memang pendapatku ini tulus dan dari lubuk hati yang paling dalam, namun tidak kuinginkan memuji terlalu panjang lebar dan detail. Bukan apa-apa. Mereka memang harus di apresiasi tapi jangan sampai pujian berlebihan malah membuat kegedean rasa lalu cepat berpuas diri.

Padahal bagi pemuda-pemuda seperti mereka, walau masih banyak yang pada jomblo, karya besar mereka masih ditunggu untuk bangsa ini. Bukan sekedar untuk pemilu atau pilpres 2014, namun untuk masa yang lebih jauh lagi.

Ya, kalau kita cermati sebagian besat slogan partai peserta pemilu 2014 yang tersisa ini, kita selalu terbentur kepada kata-kata jargon belaka. Kadang saya merasa, kalimat yang tersebar di spanduk-spanduk
mau pun televisi tak ubahnya slogan produk rumah tangga yang mengklaim mereka adalah “kecap no. 1” atau “deterjen paling bersih”. So, apa penjelasan dari semua klaim ini?

Berbeda saat pertama kali kumembaca slogan Partai Gerindra ini, slogan yang unik—bukan slogan dagangan tetapi sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu:

“Kalau bukan kita, siapa lagi! Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”

Sebuah slogan pertanyaan yang membuatku berbulan bulan mesti semedi (lebay) untuk mencari apa yang membuat para pengurus dan pendirinya memilih sebuah pertanyaan daripada kata-kata tagline belaka.

Belum lagi, muncul slogan dari bawah (simpatisan) yang begitu seperti ‘memaksa’ kepada pengurus atasnya bahwa jika “Gerindra Menang, Prabowo Presiden!”.

Pertanyaan yang malah terjawab saat tanpa sengaja aku browsing tentang tokoh Bung Kecil (Sutan Sjahrir) usai nonton bareng film Soekarno bersama rekan-rekan blogger beberapa hari sebelumnya.

Dalam penyusuran di internet tentang sepak terjang Bung Syahrir inilah, sebuah cuplikan acara televisi yang mengupas tentang situasi politik pra kemerdekaan—muncul statement menarik dari Rocky Gerung, seorang filsuf politik dari Universitas Indonesia. Menurut nya,

“Slogan politik adalah sesuatu yang dioleh dengan kekuatan teori dan menghasilkan proposal perubahan.”

Dan...

“Politik artinya mengedarkan ulang pikiran, memberi keterangan baru pikiran lama. mencoba untuk mensiasti celah kecil yang terbuka untuk pikiran baru.”

Ya! Inilah dua point utama menjawab semua pertanyaanku sebelumnya tentang slogan dan program Partai Gerindra ini.

Harus diakui, slogan pertanyaan yang merupakan sebuah pancingan kepedulian sekaligus ajakan kepada seluruh warga negara untuk ikut berperan serta dalam sebah gerakan besar, gerakan menuju Indonesia Raya. Sebuah mimpi besar para founding father bangsa ini yang tertuang dalam lagu kebangsaaan yang berdarah-darah mereka perjuangkan untuk dikumandangkan. Mimpi yang masih belum 100% terwujud sampai hari ini.

Nah, kembali ke slogan Gerindra ini—muncul pertanyaan dasar, mengapa mereka begitu percaya diri mengajak orang-orang untuk bersama-sama bergerak bersama mereka?

Teori dan proposal perubahan apa yang mereka bawa dan tawarkan?

Pertanyaan yang dijawab langsung oleh munculnya draft program yang resmi mereka sebut sebagai “6 Program Aksi Transformasi Bangsa”-nya. Sebuah program (proposal) yang mudah sekali dicari baik secara cetak mau pun digital di internet. Semua sudah sangat mendetail step by step apa yang akan mereka lakukan.

Bahkan beberapa diantaranya, sudah diperjelas dengan kontrak politik yang berarti: Gerindra dan Prabowo menyodorkan kepalanya untuk siap dijitak atau dipenggal kepalanya jika ingkar janji.

Bagaimana dengan partai lain?

Pertanyaan yang tidak pernah dijawab oleh mereka. Mereka lebih sibuk menyebar luaskan program dan proposal ini ke masyarakat lewat jejaring media atau sosial medianya. Jangankan membandingkan dengan partai lain, menjelek-jelekan partai atau capres lain pun tidak pernah sedikit pun aku temukan. Paling sesekali mengkonter berita yang ‘memplesetkan’ statement Prabowo saat wawancara.

“Kalau soal detail program partai lain, monggo mas Srondol cari sendiri di internet untuk ada atau tidaknya” jelas Prabowo saat kami sedang makan malam bersama. Sebuah jawaban sederhana namun penuh sindiran, eh, makna.

Lalu, terkait statement pak Rocky tentang politik adalah sebuah sistem mengedarkan pikiran—mengerucut satu pertanyaan utama, apa “pikiran” Prabowo ini hingga sistem dan mesin-mesin politiknya begitu fokus dan tidak tolah-toleh saat menyebarkannya?

“Misi pertama kita sederhana, mas. Pertama menutup kebocoran dan kehilangan kekayaan negara yang selama ini menjadi biang kerok gagalnya negara mensejahterakan rakyatnya” jelas Prabowo.

Ya, saya termangu saat Prabowo dengan lugas menjelaskan bagaimana bangsa ini kehilangan lebih dari Rp. 1.100 Trilyun pada tahun 2013 ini. Lebih banyak lagi jika dikomulatifkan ketahun-tahun sebelumnya. Kehilangan yang disebabkan oleh tiga faktor yaitu:

1. Kebocoran Anggaran Negara (APBN) Rp. 500 Trilyun

Subuah kebocoran yang luar biasa edannya! Kebocoran yang dilakukan oleh para “maling” dan “komprador”—kata yang sering diucapkan berkali-kali oleh Prabowo dengan lantang dan penuh kemarahan. Maling merujuk pada koruptor uang negara baik pribadi mau pun sistematis. Sedangkan komprador adalah para antek-antek asing yang tega melacurkan dirinya sebagai jalan keluarnya aset-aset dan kekayaan sumber daya alam bangsa ini kepada orang asing.

2. Kehilangan Potensi Penerimaan Pajak Rp. 360 Trilyun

Sedikit teriris rasanya saat Prabowo menjelaskan bahwa para pembayar pajak yang taat ini adalah para rakyat kecil. Para petani-petani, nelayan, buruh-buruh, karyawan atau pegawai rendahan. Bagaimana para pengusaha kelas kakapnya? Bagaimana para pemilik modalnya? Belum lagi, tempat pengumpul uang pajak ini masih banyak tikus-tikus yang bersedia bernegosiasi untuk mengelabuhi angka pajak sebenarnya yang harusnya mereka bayar.

“Beraninya cuma sama wong cilik!” kata Prabowo menahan geram.

3. Anggaran Negara untuk Subsidi Energi Rp. 300 Trilyun

Beberapa tahun Prabowo menjadi pengusaha perminyakan di luar negeri seperti membuka matanya lebih lebar. Bagaimana bodohnya bangsa ini hanya menjual minyaknya secara mentah dan membeli secara jadi. Padahal, insinyur di Indonesia tidak diragukan lagi kepintaran dan kelihaiannya dalam rancang bangun dan tata kelola teknis minyak sendiri. Belum lagi soal konsumsi menyak bumi yang selalu meningkat tanpa terkendali.

Sungguh paparan yang terbayang olehku bagaimana repotnya Prabowo menyederhanakan kalimat dan jargon ekonominya agar bisa mudah diterima dan dicerna semua lapisan masyarakat. Mungkin sama repotnya dengan Robert T Kiyosaki yang menemukan pola arus keuangan yang akhirnya disebutnya “The Cashflow Quadrant”.

Pantesan saja, pernah suatu hari melihat Prabowo tampak anteng menjawab pertanyaan wartawan BBC London perihal programnya yang dianggap muluk-muluk dan ambisius.

Contohnya soal keberaniaanya menandatangani kontrak politik akan memberi anggaran pembangunan desa 1 milyar/pertahun. Padahal di Indonesia terdapat 80.000 desa yang berarti dibutuhkan 80 trilyun tiap tahunnya. Namun setelah tahu bahwa dengan menyelamatkan 1100 trilyun kekayaaan negara, hal itu sangat masuk akal dan bukan ambisi yang muluk-muluk.

Itu pun masih banyak sisa untuk hal lain seperti menghidupkan IPTN, membangun pabrik otomotif dan motor sendiri, pabrik elektronik dan telko sendiri, memperkuat persenjataan TNI bahkan buy back asset negara yang sudah terjual seperti Indosat dan lainnya pun masih sangat memungkinkan dan ada sisanya.

“Tapi, pak. Ini datanya dari mana?” tanyaku mencoba menelisik lebih dalam.

“Loh, ini data dari pemerintah sendiri mas. Saya nggak mengada-ada atau mencari-cari memakai lembaga survey buatan.” Jelasnya lagi.

Saya pun melongo. Kufikir beliau hanya sedang menyampaikan data dan fakta dari sejenis lembaga survey ala survey-survey capres yang lazim keluar beberapa bulan ini. Data dan fakta yang akhirnya membuatku menjadi tidak heran lagi jika banyak profesor dan guru besar ekonomi tidak mampu membantahnya.

“Sebenarnya data ini sudah banyak yang tahu, mas. Cuman entah mengapa disembunyikan. Saya harus nekad mengabarkan yang pahit-pahit ini kepada masyarakat agar sama-sama sadar. Saya tidak mau membuai rakyat dan mengatakan bahwa negara kita ini baik-baik saja. Bangsa kita dalam masalah besar, mas.” Jelasnya.

Masalah besar yang membuat bangsa besar ini, mirip sebuah motor balapnya Valentino Rossi yang sedang kempes bannya. Kempes karena bocor disana sini. Berjalan mengelinding hanya mengandalkan velk-nya saja. Tak heran, motor sebesar dan sekuat itu begitu mudah dilewati negara tetangga yang langsing dan efisien.

Ilustrasi yang kadang membuatku membayangkan Rossi sedang menuntun motor nya sambil dilewati motor bebek dan matic sambil dadah-dadah. Hiks…

Sungguh kadang saya merasa Prabowo ini seperti tukang tambal ban, tambal ban keuangan negara yang bocor-bocor.

“Nah, kalau sudah kebocoran anggarannya ditutup—bagaimana caranya menambah kekayaan negara, pak?” tanyaku makin penasaran.

“Begini mas, ada paradigma yang harus digubah. Contohnya pada minyak bumi dan sumber daya energi lainnya, selama ini kita hanya menjual minyak, gas dan batubara hanya secara mentah. Untuk minyak, kita hanya mendapatkan dana 100$/barrel. Padahal jika kita olah dahulu menjadi barang bernilai tambah yang merupakan turunannya—kita bisa mendapat harga yang puluhan bahkan ratusan kali dari minyak mentah. Itu juga berlaku untuk gas dan batubara..”

“Terus apalagi, pak?”

“Yang utama tentu kita memakai jurus “Strategi Dorongan Besar” yang berbasis pada pertanian. Berbasis pada ekonomi kerakyatan. Mas Srondol sudah siap mendengarkannya?” kata Prabowo sambil bertanya balik.

“E, sebentar. Saya tarik nafas dulu…”

Hup, puuuffff….
Read More

Review program prabowo 1 desa 1 Miliyar

1M Tiap desa,ngga mungkin!?Sangat
mungkin, Pelajari Alasannya dan Kenali 8 Program Desa Dari Gerindra.
Fakta Sebenarnya
Pada Tanggal 25 Okt 2013, Partai Gerindra menandatangani kontrak Politik dengan perwakilan kepala desa dari seluruh Indonesia, Di dalam kontrak tersebut berisikan.

“Jika rakyat memberikan dukungan, dan partai gerindra berhasil memenangkan pemilu 2014, maka Partai Gerindra akan memastikan setiap desa mendapatkan anggaran dari pemerintah pusat minimal Rp. 1MILYAR per desa setiap tahunnya dan dijalankannya 8 PROGRAM DESA”

Darimana kah asal dana itu? Kita punya anggaran negara yang cukup bahkan masih sangat lebih. RAPBN thn 2013 kita mencapai 1.600 Trilyun, dan kita memiliki pembagian sekitar 75.000-80.000 desa per masing2 desa 1 M, itu hanya akan memakan dana sekitar 75-80 Trilyun. Dikurangi dari RAPBN negara hanya akan memakan 9% dari total RAPBN.

Hal ini sangat mungkin dilakukan dengan RAPBN yang kita miliki untuk memajukan perkembangan tiap desa secara merata. Selain Rp.1 Milyar, Partai Gerindra juga memberikan 8 PROGRAM DESA untuk tiap desa yang telah tertera dalam perjanjian.

Berikut isi dari “8 PROGRAM DESA”

1.Jalanan, Jembatan, Dan Irigasi Desa dan Pesisir
2.Listrik dan Air bersih Desa
3.Koperasi, BUMDES, Badan usaha Petani dan Keuangan Mikro
4.Lumbung Desa
5.Pasar Desa
6.Klinik dan rumah sehat desa
7.Pendidikan dan Wirausaha muda desa
8.Sistem Informasi Desa

Sekarang jelas dari mana asal dana yang selama ini di anggap asal sebut tersebut.

Read More

Klarifikasi black campain terhadap prabowo

Nanik S Deyang saat bersama jokowi dan prabowo

Dari status Mbak Nanik S Deyang: seorang wartawan senior yang dulu adalah anggota tim suksesnya jokowi-ahok lalu mengalihkan dukungannya ke prabowo

Teman-teman FB, jangan terpancing terus dengan berita BOHONG yg tiap hari diberitakan oleh media-media mereka. Itu cara mengalihkan berita Dari KEBOCORAN DKI (temuan BPK) selama pemerintahan JOKOWI di DKI sebesar 1,5 Triliun lebih. Juga utk menutup kelemahan-kelem

ahan dia waktu debat ketiga, seperti mau jual Indosat ternyata hanya BOHONG besar karena opsi buyback tidak ada.

Juga pernyataan kurang cerdasnya soal Tank Leopard, Drone , permbentukan tentara rakyat dll. Ayoo jangan terjebak dengan berita BOHONG.
Soal Prabowo katanya menghina GUS DUR itu HOAX. Sampai pukul 1 dini hari semalam saya berusaha menghubungi seketaris Pak PS untuk mengkonfirmasi. Ternyata semua BOHONG, bicara pun tdk pak PS dengan wartawan abal-abal ini.

Mengapa berita Pak PS menghina Gus Dur itu baru muncul belakangan??? Ini karena panik setelah keluarga Gus Dur mengijinkan potongan kalimat Gus Dur soal sosok Prabowo sebagai " Orang yang Paling Ikhlas" terus di putar di TV.
Saya tidak bisa gambarkan hubungan yg LUAR BIASA , dari hubungan Gus Dur dan Prabowo, tapi Mbak Yenny Wahid dan keluarga inti Gus Dur tau semua.

Seorang Jenderal di belakang Jokowi sekarang lagi beroperasi mendekati para Kiyai NU yg mendukung Prabowo utk ditarik ke Jokowi.Semalam hingga tengah malam, salah satu keluarga Gus Dur mendatangi Kyai Lirboyo utk tdk termakan hasutan sang Jenderal koplak.

Sekali lagi jangan termakan isu...ayo perhatikan siapa yg mengeluarkan berita soal Prabowo menghina Gus Dur? wartawan Amerika. Anda tau sikap Amerika selama ini sama Prabowo? Kemudian cek siapa yg mengeluarkan berita pertama kali siapa? Portal apa? Portal milik JR . Siapa JR konglomerat yg selama ini disebut -sebut mendukung Jokowi. Lalu ikuti siapa lagi yg memberitakan maka anda akan tau bahwa berita itu HOAX.
Read More

Prabowo dimata Sahabatnya

JAKARTA - Serangan bertubi kepada Prabowo membuat sang sahabat geram. Sebab tudingan kepada Prabowo sama sekali bertolak belakang
dengan kebenaran.

Rekan seangkatan Prabowo di Akmil, Mayjen TNI Purn. Glenny Kairupan, menuturkan dia lebih tahu pribadi Prabowo ketimbang para atasannya
dulu, seperti Wiranto dan Agum Gumelar maupun pihak-pihak lain yang sering menjelek-jelekk


an Prabowo.

"Saya mengenal Prabowo sejak 45 tahun lalu dan apa yang di-stigmakan di media dan beberapa mantan atasannya bahwa Prabowo berperilaku
minus, tidak sama dengan kenyataan,” katanya. “Ketika masuk di Akmil, Prabowo mengikuti semua pendidikan dan latihan yang cukup keras
tanpa ada keistimewaan,” Glenny menerangkan.

Prabowo, kata dia, pada zaman itu adalah anak seorang menteri. Ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo adalah salah satu menteri di
kabinet Presiden Soeharto.

Menurut Glenny, darah militernya mengalir dari paman Prabowo, Letnan Soebianto Djojohadikusumo, pahlawan pada pertempuran Lengkong, Tangerang. Keluarga dari pihak ibunya, Dora Sigar juga mengalir darah para pejuang Indonesia dari Manado.

Ketika di Akmil, kata Glenny, Prabowo suka membaca dan jumlah koleksi bukunya lebih banyak dibanding yang ada di perpustakaan Akmil. “Tak heran dia tahu banyak hal dan cerdas,” kata Glenny. Prabowo juga menguasai empat bahasa asing (Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis), sehingga dia sering jadi penerjemah jika ada tamu asing berkunjung ke
Akmil.

Menurut Glenny, sejak muda dia punya kebiasaan unik yang kadang membuat mereka kagum. “Setiap lewat di patung Jenderal Soedirman atau Jenderal Oerip Soemohardjo yang ada di halaman Akmil, dia selalu hormat
cara militer. Ketika radio di kamar asrama memutar lagu Indonesia Raya, dia selalu bersikap sempurna,“ katanya.

Prabowo juga punya passion memperhatikan orang lain. “Sampai sekarang saya masih ingat ketika kami tingkat II, ada acara penyambutan
taruna baru. Prabowo melihat ada seorang paruh baya berpangkat Pembantu Letnan Angkatan Udara, tidak mendapat kursi sehingga harus
berdiri. Saya diajaknya mencari kursi buat tamu itu. Taruna lain mana peduli dengan hal-hal seperti itu,” lanjut Glenny.

Dalam perjalanan karirnya, sifat nasionalisme dan perhatiannya kepada orang lain itu, dibawanya terus sampai sekarang. “ Hanya orang yang iri saja yang bilang bahwa karirnya terbantu karena dia menantu Presiden, tapi saya berani bilang bahwa Prabowo memang berbakat menjadi prajurit yang bagus. Dia nasionalis sejati,” katanya.

Sejak lulus sebagai taruna, Prabowo memang berprestasi cemerlang di lapangan. Terbukti pada 1978 dia berhasil menangkap tokoh Fretilin yaitu
Nicolau Lobato dan mendapat kenaikan pangkat istimewa. Dia menguasai dengan baik strategi pertempuran.

Prabowo, kata Glenny paham psikologi pasukannya. “Kapan pasukan harus ditarik karena over duty dan kapan harus maju bertempur,” kata Glenny. Selama memimpin pasukan di juga care terhadap anak buah dengan memperhatikan kesejahteraan keluarga pasukannya.

“Setahu saya sejak taruna, Prabowo tak pernah mau menjelek-jelekkan orang lain, dan prinsip itu dipegangnya sampai sekarang. Dia tak pernah
membalas sekalipun difitnah atas kasus-kasus yang telah lalu,” kata Glenny. (ugo)
Read More

Catatan pribadi seorang Ibu Rumah Tangga, Tasniem Fauzia 25 Juni 2014 Nijmegen, Belanda

Kalau kita setelah baca beberapa fakta ini masih berpikir "halaaaah bocar bocor bocar bocor, kayak pompa bocor!!" I must say, sepertinya ada yang salah dengan pola pikir kita kalo begitu.Pola pikir yang sudah terbiasa terjajah, sehingga hal-hal seperti ini pun tidak memberikan sedikitpun efek untuk berpikir tentang kemerdekaan kita.

1. Dari 1 juta barel minyak yang diproduksi per hari di Indonesia, hanya 70ribu barel yang diproduksi Pertamina, 75 ribu produksi Medco dan KPS Lokal, sisanya 855ribu barel per hari DI TANGAN PRODUSEN ASING.

2. 90% dari kontrak kerjasama produksi dikuasai asing.

3. Sektor pertambangan emas dan tembaga, 99% dikuasai oleh asing.
Contoh yang fenomenal yang bikin hati ini merintih : FREEPORT.
Ini adalah tambang mineral terbesar di Indonesia, yang menggerus 300ribu ton bijih per hari, sekaligus sudah menghancurkan 3 sungai besar dan laut Arafora.

Royalti yang diterima bangsa Indonesia coba tebak berapa?
HANYA 1-3.5% untuk konsentrat tembaga dan 1% fixed untuk emas dan perak.

Yang lebih gila lagi adalah iuran tetap untuk wilayah pertambangan hanya berkisar 250ribu rupiah per hektar per tahunnya. Jauh LEBIH RENDAH dibandingkan dengan harga sewa lahan sawah oleh petani penggarap termurah sekalipun.

4. Kebodohan bangsa Indonesia tidak hanya berhenti di sini saja. Menangis hati ini semakin membacanya dan membahasnya.

5. Wilayah-wilayah


migas kita yang sangat potensial telah jatuh ke asing. Contoh: Blok Cepu. Dengan cadangan minyak minimal 600 juta barel dan 2 trilyun kaki kubik gas, maka pada harga minyak 60 dolar per barel, dan gas 3 dollar per MMBTU, nilainya sekitar 387 trilyun rupiah.

6. Bayangkan jika seandainya saja Blok cepu ini tidak dikuasai oleh asing, bayangkan saja jika ini dikelola oleh Pertamina, dengan asumsi harga minyak 90 dolar per barel dan harga gas 15 dolar per MMBTU, Maka nilai Blok Cepu ini mencapai 576 trilyun rupiah. Bayangkan padahal tahun 2013 saja harga minyak sudah mencapai 105 dollar per barel. Sudah berapa ratus trilyun yang bisa kita amankan?

7. Lihat pula kontrak penjualan LNG Tangguh ke Fujian China sebesar 2,6 juta ton per tahun dengan harga 3,35 dolar per MMBTU selama 25 tahun yang sesungguhnya merugikan bangsa ini sekitar 350 trilyun rupiah.

8. Yang lebih menyayat hati kami lagi bangsa Indonesia, adalah kontrak bagi hasil Natuna Blok D-Alpha dengan porsi bagi hasil sebelum pajak: 100 PERSEN UNTUK EXXON MOBIL dan 0% untuk pemerintah Indonesia.

Ini artinya pemerintah sama sekali tidak mempunyai hak atas hasil produksi gas secara fisik, karena pemerintah hanya akan mendapatkan penerimaan dari pajak saja. Ini sangat bahaya, karna jaminan pasokan gas dalam negri dari Natuna Blok D-Aplha tidak ada sama sekali.

9. Inilah mengapa saat ini Indonesia sedang menangis. Ibu pertiwi kita sedang menangis. Inilah arti kebocoran yang dimaksud oleh Prabowo selama ini. Beliau bertahun-tahun berjuang untuk masalah ini, karna ini adalah inti masalah bangsa kita saat ini. Sudah berapa ribu trilyun rupiah bisa masuk ke cash negara, jika semua tadi bisa kita amankan. Dan uang segitu banyak adalah modal untuk menambah APBN yang defisit sekarang ini, supaya Indonesia bisa sejahtera.

10. Kita memang boleh bersedih, boleh menangis, tapi kita harus bangkit. Harus bangun dan optimis bahwa bangsa kita bisa kembali berdiri di atas kaki sendiri. Renegosiasi harus dilakukan Jakarta dengan para penguasa asing di negeri ini. Ini semua butuh kepiawaian, butuh skills, butuh kecerdasan juga dalam berkomunikasi. Dan tentunya butuh keberanian dan ketegasan.

Mari Indonesia, KITA HARUS BANGKIT!
Read More

Bagikan